TRADISI BATUMBANG DI HARI RAYA MASIH LESTARI DI MASJID KERAMAT DESA JATUH
- Mar 22, 2026
- KIM DESA JATUH
DESA JATUH — Tradisi batumbang apam merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Banjar yang telah dilaksanakan secara turun-temurun dan hingga kini tetap terjaga keberlangsungannya di Masjid Keramat Al-A'la. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan keagamaan, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan sejarah berdirinya masjid serta asal-usul Desa Jatuh itu sendiri.

Masjid Al-A’la diketahui didirikan sekitar pertengahan abad ke-17 Masehi di atas tanah wakaf, dan dikenal sebagai salah satu masjid tertua kedua di Kabupaten Hulu Sungai Tengah setelah masjid di Desa Palajau. Nama “Al-A’la” yang berarti tinggi dipercaya berkaitan dengan letak bangunan masjid yang lebih tinggi dari sekitarnya, bahkan menurut kepercayaan masyarakat, tanah tempat berdirinya masjid tersebut terus mengalami peningkatan ketinggian.
Sejarah Desa Jatuh juga menjadi bagian penting dalam munculnya tradisi ini. Dahulu desa ini dikenal dengan nama Banua Budi. Nama “Jatuh” sendiri berasal dari peristiwa ditemukannya benda-benda bersejarah seperti dua lembar panji-panji dan sebuah Al-Qur’an tulisan tangan yang diyakini berasal dari keturunan keluarga kerajaan Arab Saudi. Peristiwa tersebut menjadi titik awal penamaan desa sekaligus memperkuat keyakinan masyarakat akan nilai religius dan keberkahan tempat tersebut.
Berdasarkan latar belakang sejarah inilah, masyarakat kemudian melaksanakan tradisi batumbang apam di Masjid Al-A’la yang dianggap sebagai tempat keramat. Pada awalnya, tradisi ini kemungkinan hanya berupa kegiatan selamatan biasa, namun seiring berjalannya waktu berkembang menjadi tradisi khas yang dikenal dengan sebutan batumbang apam.
Pelaksanaan tradisi ini umumnya dilakukan pada bulan Syawal (Hari Raya Idul Fitri) dan bulan Dzulhijjah (Hari Raya Idul Adha), dimulai dari hari pertama hingga hari ketujuh atau selama satu minggu. Meski demikian, ada juga masyarakat yang melaksanakannya di luar waktu tersebut, tergantung pada niat atau nazar masing-masing.
Adapun urutan pelaksanaan tradisi batumbang apam dimulai dengan meminta izin kepada kaum masjid yang bertugas memimpin prosesi. Setelah itu, anak yang akan mengikuti batumbang dibawa masuk ke dalam masjid. Keluarga kemudian membawa kue apam sebagai bahan utama, meskipun terkadang juga disertai kue lain seperti cucur, leketan, atau dodol gagatas.
Kue apam kemudian diletakkan di atas kepala anak, dilanjutkan dengan pembacaan basmallah dan shalawat sebanyak tiga kali. Prosesi ini memiliki makna agar anak senantiasa mendengar dan dekat dengan ajaran agama Islam sejak dini. Setelah itu, dibacakan Surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan doa selamat sebagai bentuk permohonan keselamatan, kesehatan, dan keberkahan bagi anak serta keluarga yang hadir. Setelah prosesi selesai, kue apam biasanya dimakan bersama atau dibagikan.
Selain prosesi utama, terdapat pula rangkaian tambahan yang bersifat pelengkap, tergantung pada kemampuan dan niat masyarakat yang melaksanakan. Di antaranya adalah menghamburkan uang receh di halaman masjid sebagai bentuk sedekah dan hiburan bagi anak-anak, menaiki mimbar khatib dengan lima anak tangga sebagai simbol rukun Islam, serta memeluk tiang guru di dalam masjid yang dimaknai sebagai harapan agar anak kelak menjadi pribadi yang berilmu, taat, dan berguna bagi masyarakat.
Suasana pelaksanaan tradisi ini sangat terasa pada momen Hari Raya, di mana masyarakat berbondong-bondong datang ke masjid. Tidak hanya di dalam masjid, aktivitas juga terlihat di area luar seperti tempat wudhu, di mana masyarakat saling berinteraksi, mempererat silaturahmi, serta berbagi kebahagiaan. Anak-anak tampak antusias mengikuti prosesi dengan didampingi orang tua mereka, menciptakan suasana yang hangat dan penuh makna.
Tradisi batumbang apam bukan sekadar ritual, melainkan juga menjadi simbol kuat perpaduan antara nilai keagamaan, budaya lokal, dan kebersamaan sosial. Hingga saat ini, masyarakat Desa Jatuh terus menjaga dan melestarikan tradisi ini sebagai bagian dari identitas daerah sekaligus warisan berharga yang diharapkan dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang.